Mengenal Kemaliq Ranget Sebuah Warisan dari Para Leluhur Sasak
Kemaliq Ranget
Sebelum
membahas tentang kemaliq ranget, terlebih dahulu kita harus mengetahui makna
dari kemaliq itu sendiri. Kemaliq adalah sebuah tempat yang sakral dan
disakralkan oleh masyarakat, biasanya diberi tanda dengan batu, pohon, mata air
dan sebagainya. Kemaliq memiliki energi positif, ada energi kebaikan yang
berpusat di sana karena tempat tersebut dahulunya dijadikan oleh para wali
Alloh sebagai tempat untuk bertafakkur. Efek dari energi positif yang dimiliki
oleh para wali Alloh kemudian menyebar
ke seluruh tempat tersebut. Oleh karena itu, kemaliq merupakan warisan
spiritual karena kemaliq biasanya pernah disinggahi oleh para wali Alloh.
Dikarenakan kemaliq adalah tempat yang disakralkan dan memiliki aura positif di
dalamnya, maka tidak boleh melakukan perbuatan yang dilarang di suatu tempat
yang dikatakan maliq. Disamping sebagai tempat yang sakral dan disakralkan oleh
masyarakat, kemaliq juga harus dijaga karena merupakan warisan spiritual
masyarakat pemiliknya.
Menurut
Pak Kadus Ranget, Septori Wirawan, menyatakan bahwa kemaliq merupakan prasasti
leluhur orang Sasak, bukti-bukti sejarah orang Sasak dimana hal tersebut
menjadi bukti bahwa leluhur orang Sasak adalah orang Islam. Sejak awal orang
Sasak sudah memeluk agama Islam, tidak ada agama selain islam. Jika pun ada
orang yang tinggal di Lombok beragama selain islam, mereka merupakan pendatang
bukan asli keturunan Sasak. Bahkan menurut tokoh-tokoh budaya Sasak, orang
Sasak sudah islam sebelum nabi Muhammad SAW dilahirkan. Ajaran islam yang
dibawa oleh nabi Muhammad SAW merupakan menyempurnaan dari ajaran islam
sebelumnya.
Kemaliq
juga dapat disebut sebagai simbol dari sebuah komunitas. Benda-benda nenek
moyang seperti kris, sabuk juga dapat dikatakan kemaliq karena milik suatu
komunitas dan biasanya mereka telah bersumpah untuk menjaga pewarisnya. Oleh
karena itu benda kemaliq ini harus di pegang oleh ahlinya atau keturunannya
secara turun-temurun. Contoh kemaliq yang ada di Lombok yaitu Makam loang
balok, Makam batu layar, Kemaliq Ranget dan sebagainya. Di tempat lain (selain
Lombok) terdapat kemaliq, namun dengan istilah yang berbeda. Ka’bah adalah
salah satu contoh dari kemaliq, dan menjadi pusat kosmos terbesar di dunia.
Kemaliq
Ranget merupakan salah satu contoh dari warisan para leluhur, yaitu para wali
Alloh yang telah disebutkan diatas. Di katakan warisan karena diturunkan secara
turun-temurun oleh para leluhur. Kemaliq adalah warisan maka harus dipelihara
dan dipertahankan, karena merupakan warisan tanggung jawab dari para leluhur.
Pak Dusun Ranget, salah seorang yang menyadari akan warisan tersebut dan
memiliki tanggung jawab untuk mempertahankannya dari rebutan orang luar.
Kemaliq memiliki aura positif sehingga orang luar tertarik untuk mengambil alih
tempat tersebut. Contoh yang dapat kita liat sekarang ini yaitu perubahan
kemaliq menjadi pure, seperti kemaliq batu bolong, yang kini sudah berubah
menjadi pure batu bolong, kemaliq lingsar yang kini juga sudah berubah menjadi
pure lingsar. Bahkan di googlemap,
kemaliq ranget sudah berubah menjadi
pure ranget.
Namun
yang masih menjadi permasalahan saat ini, kebanyakan dari masyarakat Sasak
tidak paham tentang kemaliq, bahkan menganggap hal tersebut sirik dan tabu.
Banyak masyarakat menganggap sholat di dalam Ranget dianggap sirik, terlebih
sekarang ini dalam Ranget, kemaliqnya dibungkus oleh pure. Tetapi perlu diingat
bahwa dalam agama dikatakan bahwa seluruh hamparan bumi adalah masjid, namun
perlu diketahui bahwa masjid dengan bangunan masjid itu berbeda. Masjid adalah
tempat bersujud, dimana kita bersujud di situ lah masjid, sedangkan bangunan
masjid adalah sebuah bangunan yg dibangun untuk tempat beribadah. Jika kita
hanya boleh sholat di bangunan masjid bagaimana dengan orang yang di tengah
laut, haruskah untuk beribadah mereka harus pergi ke bangunan masjid untuk
melaksanakan kewajibannya?. Bukankah agama itu luas, sholat lah di setiap sudut
bumi karena nantinya mereka akan bersaksi.
Kemudian
banyak masyarakat Sasak, ketika berbicara tentang agama dan budaya, tetap
dianggap berseberangan. Padahal agama seharusnya dibudayakan supaya tingkah
laku kita tidak keluar dari garis agama. Budaya merupakan penerapan dari agama,
di dalam agama terdapat kebudayaan begitupun sebaliknya di dalam kebudayaan
terdapat agama. Tidak ada budaya Sasak yang keluar dari agama Islam. Untuk itu
lah perlu diberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat supaya mereka tidak
salah pemahaman lagi.
Dalam
upaya mempertahankan kemaliq ranget dari rebutan orang luar, Pak Kadus Ranget,
Septori Wirawan saat ini berusaha untuk mengembalikan dan memperkuat kebudayaan
serta tradisi-tradisi yang telah lama hilang di desa Ranget. Contoh kasus yang
telah hilang yaitu silaturahim, sekarang ketika orang begawe hanya memberitahu lewat telepon karena dianggap lebih mudah,
tidak memakan waktu banyak, tapi kita tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang
lebih berharga yaitu hilangnya silaturahmi. Ritual-ritual seperti bubur putek (bubur putih sebagai lambang
bapak) dan bubur abang (bubur merah
sebagai lambang ibu) yang bermakna sebagai asal-usul manusia yang diawali dari
perkawinan, kemudian ritual bejambek,
ngurisan, besunat, nunas sari (jika
ingin menanam pagi, terlebih dahulu pergi ke kemaliq), seserah tanah (jika bayi akan turun tanah dalam artian akan segera
berjalan), akan kembali diangkat dan dipertahankan.
Langkah
selanjutnya yang ditempuh oleh Pak Kadus Ranget untuk mempertahankan
kebudayaan, yaitu Ranget sebagai tempat wisata pemandian nantinya akan dikembangkan
konsep wisata budaya, arsitekstur bangunan akan bernuansa khas Sasak. Juga
nantinya bekerja sama dengan teater putih, dari Universitas Mataram, untuk
membuat pertunjukan seni di Ranget sebagai acara tahunan. Pak Kadus Ranget,
sangat berusaha untuk mempertahankan kebudayaan yang ada karena dapat
mempersatukan masyarakat Sasak. Sebagai contoh kemalik Pengkoak, merupakan
salah satu kemalik terbesar. Kemalik Penggoak merupakan peninggalan leluhur
orang Selat, Narmada. Dahulu orang Selat jika bermain bola dengan orang
Suranadi pasti akan tawuran, namun sekarang ini hal tersebut tidak terjadi lagi
karena mereka menyadari bahwa mereka berasal dari leluhur yang sama.
Oleh
karena itu, baiknya kita tidak boleh terlena oleh modernisasi sehingga lupa
akan sejarah dan kebudayaan kita sendiri. Kita juga sebagai generasi penerus,
terutama sebagai suku Sasak harus mempertahankan identitas diri sebagai orang
Sasak, jangan lalai terhadap sejarah leluhur kita dan terlena dengan teknologi,
karena jika hal tersebut terjadi maka tradisi-tradisi yang ada di bumi sasak
ini akan hilang dan kita sebagai suku Sasak akan kehilangan identitas diri.
Sumber
:
Hasil observasi di
dusun Ranget, desa Sesaot, Kec. Narmada. Dengan narasumber bapak Septori
Wirawan (kepala dusun Ranget).
Komentar
Tetap semangat kaka miaa
Terima kasih