Mari Pertahankan Milik Kita

Mari Pertahankan Milik Kita

Karya : Atika Almiana


Hutan yang asri, lalu lalang para penggoes sepeda membuat langkahku semakin bersemangat untuk segera sampai ke tempat itu. Terkadang aku tersenyum kepada para pesepeda yang mendahului dan berpapasan dengan diriku. Tidak sabar rasanya ingin melihat tempat itu lagi. Sudah lama. Sudah 3 tahun, kira-kira. Aku tidak pernah berkunjung ke tempat ini.  Karena asik memotret keindahan hutan ini, aku jadi tidak sadar telah sampai di tempat ini. 

Udara dingin nan segar langsung menyapa kulitku ketika baru saja sampai di gerbang masuk tempat ini. Ya aku sekarang sedang berada di kemaliq Ranget. Ku langkahkan kakiku semakin ke dalam menyusuri tempat ini. Seketika saja, aku melihat memandangan mata air yang jernih. Jernihnya mata air itu, seakan-akan mengunci mataku untuk terus memusatkan perhatian kepadanya. Terangnya cahaya matahari semakin membuat sungai itu memancarkan warnanya. Senyum, canda tawa orang-orang yang sedang berendam di sungai. Membuat bibirku ikut melengkungkan senyum. Gemetar tubuh mereka karena dinginnya air sungai, membuat diriku tertawa geli.

Ku telusuri lagi tempat ini, melangkah lebih dalam lagi. Oh tunggu, ada yang aneh. Kenapa di dalam tempat ini terdapat sebuah pura. Perasaan dahulu tidak ada pura tersebut.  Disela kebingunganku tiba-tiba aku di kangetkan oleh panggilan seseorang. "Daffa" panggilnya. Aku menoleh. Oh ternyata itu adalah temanku. Agus namanya. Memang sebelum kemari kami janjian untuk pergi bersama ke tempat ini. Namun karena dia ada urusan. Jadi aku pergi terlebih dahulu. 

"Kapan kamu sampai?, cepat juga ternyata ya," tanyaku. "Aku baru sampai, aku cepat-cepat datang kesini karena tidak enak membuatmu menunggu terlalu lama" jawabnya. "Ah tidak apa-apa kok, kita kan dahulu sering kesini, jadi aku betah-betah saja tuh disini....," kataku melanjutkan “Lagi pula banyak yang bisa ku lakukan disini, memotret keindahan alam disini, memanjakan mata dengan keindahan alam disini, pokoknya betah deh disini. Tidak ada kamu juga tidak masalah tuh, hehe." ucapku sedikit bercanda. 

"Hmm terserah kau saja, nanti tersesat baru tahu rasa." Balasnya sambil menyumpahi diriku. Tidak mau kalah, aku pun membalas "Tersesat? Mana mungkin! ingat ya aku ini cerdas, masih bisa mengingat jalan menuju tempat ini walau sudah lama tidak kesini" jawabku lagi dengan percaya diri. "Ya deh iya, silahkan berbicara semaumu, asal kau senang." balasnya dengan malas. Haha kami memang begini selalu berdebat karena hal kecil. Kami sudah bersahabat dari kecil, sering main bareng. Rumah kami dulunya bersebelahan. Tapi karena ayahku mendapatkan tempat tugas di Jakarta, jadilah aku pindah ke Jakarta.

  “Ayo ke warung kita duduk sambil ngopi, ga lelah apa berdiri mulu” ajak Agus sambil berjalan terlebih dahulu. Langsung saja ku susul langkahnya. Emang dasar anak ini suka banget ninggalin orang gerutuku kesal dalam hati. “Bu pesan kopinya dua ya” Agus memesan setelah kami berdua duduk di kursi sebuah warung. “Eh ingat ga waktu kecil kita sering mandi bareng anak-anak lainnya disini.” Ucapku memulai percakapan. Mata Agus menerawang, mengingat masa kecil dahulu, “Ya masih ingat, kau dulu hampir tenggelam karena terlalu boncel.” Tuh kan mulai lagi ni anak. “Tapi sekarang aku lebih tinggi dari kau.” Balasku membanggakan diri. “Eh iya ada yang ingin ku tanya nih.” Ucapku bertanya setelah ibu warung selesai membawakan kopi kepada kami. “Apaan?” jawab Agus setelah menyeruput kopinya. “Ini... tadikan aku liat ada pura disini, kok bisa sih? Perasaan dulu ga ada deh.” Tanyaku dengan penuh penasaran.  “Hmm kalau itu, ntar deh aku jelasin, ga enak kalau disini.” Jawabnya dengan wajah serius. 

***

Setelah menghabiskan kopi dan membayar. Kami pun pergi dari kemaliq Ranget. Tujuan kami selanjutnya yaitu ke rumah Agus. Katanya ibunya. Tante Aini ingin melihatku. Kangen katanya. Sepanjang perjalanan tidak hentinya aku terkagum dengan keindahan desa masa kecilku ini. Desa masa kecilku masih indah nan asri sampai sekarang berbeda dengan hiruk pikuk di Jakarta. Sangat jauh berbeda dengan Jakarta yang penuh dengan polusi. 

“Assalamu’alaikum.” Ucapku langsung mengucapkan salam setelah turun dari motor dan menuju depan pintu rumah Agus. “Wa’alaikumsalam.” Balas seorang wanita cantik sambil berjalan menghampiri diriku. “Wah Daffa sudah lama sekali ya.” Ucap tante Aini setelah tiba dihadapku. Langsung saja aku menyalami beliau. “Makin ganteng ya kamu” ucap tante Aini memujiku. “Tuh dengar apa kata tante Aini.” Sahutku pamer kepada Agus. Agus haya memutar mata. Jengah dengan sikapku. “Ayo masuk kalian pasti lapar, tante udah masak makanan yang banyak buat Daffa.” Ucap tante antusias. “Baik tante,” sahutku ikut antusias. Kami pun masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke ruang makan. Langsung saja aroma masakan tante masuk ke indra penciumanku. Masakan tante sangat enak. Dulu dia sering membuatkan diriku dan Agus bekal untuk dibawa ke sekolah. Karena dahulu mamaku sibuk jadi minta tolong ke tante untuk membuatkan bekal untukku juga.

15 menit berlalu setelah makan. Aku dan Agus duduk di sebuah gazebo yang didepannya disuguhi pemandang berbagai macam bunga. “Agus cepat deh ceritain kenapa di kemaliq ada puranya” ucapku tidak sabaran menuntut Agus untuk menjelasan detailnya. Sungguh aku penasaran sekali. Ketika melihat ada pura disana hatiku sedih sekali. Bingung. Kesal. Bercampur aduk. Pasalnya di desa ini tidak ada umat selain Islam. Lalu kenapa kok ada tempat ibadah dari umat selain Islam?. Sungguh aku tidak mengerti. 

“Iya iya sabar akan ku ceritakan semuanya” kata Agus kemudian melanjutkan, “Jadi begini dulu itu.... ada seseorang dari perwakilan umat lain meminta datang untuk minta air, kemudian meminta izin untuk ikut beribadah di kemaliq. Setelah minta izin lagi untuk jualan di sekitaran kemaliq. Kemudian membangun rumah tanpa izin. Sehingga makin berani dan menguasai kemaliq. Padahalkan seharusnya mereka tidak begitu. Ini milik kita. Milik suku Sasak. Milik keturunan asli Sasak. Kenapa melakukan hal tersebut. Wajarkan kita merasa tidak terima”.  

“Astaga jadi begitu ceritanya” jawabku tercengang. Sungguh sedih mendengar semua ini. Padahalkan kemaliq ini adalah tempat sakral dan disakralkan oleh para masyarakat. Sangat berharga bagi suku Sasak karena merupakan peninggalan leluhur suku Sasak. Pantas saja ketika mencari kemaliq Ranget di googlemaps sudah tidak tersedia dan hanya terlihat nama pura ranget. “Lalu apa langkah yang ditempuh oleh Bapak, tidak mungkinkan membiarkan ini begitu saja?.” Ya kan tidak mungkin Bapak Imam. Bapaknya Agus membiarkan hal ini. Aku sangat kenal dengan Om Imam sangat menghargai kebudayaan yang ada.

“Ya tentu saja bapak tidak akan membiarkan hal tersebut, sekarang ini bapak sedang memperjuangkan untuk merebut kembali kemaliq. Ya walaupun susah dan banyak rintangan. Karena pihak luar juga tidak mudah untuk mau mengalah. Tapi itu tidak akan menyurutkan semangat bapak untuk mempertahankan kemaliq.” Jawab Agus dengan penuh penekanan. 

“Benar sekali aku sangat mendukung langkah Om Imam ini. Aku berharap masalah  ini segera terselesaikan. Akan ku do’a kan selalu om Imam supaya diberikan kesehatan dan kelancaran oleh Allah dalam mempertahankan kemaliq ini,” Jawabku. 

“Aamiin. Tapi kita juga sebagai generasi muda tidak boleh melupakan kebudayaan, kita juga harus aktif dalam mempertahankan dan mengangkat kembali peninggalan para leluhur. Kau juga walau hidup di kota besar jangan lah lupa akan leluhurmu!” kata Agus memperingati diriku. “Hey tentu saja aku tidak akan lupa akan hal ini. Bahkan di Jakarta sana aku mengikuti sanggar seni. Disana kami belajar semua tarian daerah yang ada di Indonesia, termasuk tari dari Lombok juga. Bahkan ya sekarang, aku sudah jadi guru disana.” Balasku sedikit membanggakan diri. 

“Syukurlah kalau begitu. Aku sangat bangga padamu kawan” jawab Agus dengan senyum. “Tentu saja kau bisa membanggakan dan percaya pada kawanmu ini.” Jawabku membalas senyuman Agus. 

Komentar

Alia Sukismawati mengatakan…
Mantaap👍👍
Ndariayu mengatakan…
Ceritanya bagus��
Baiq Rohmah mengatakan…
Ceritanya sangat menarik, tetap semangat dalam berkarya, ditunggu karya-karya selanjutnya ya
Unknown mengatakan…
Cerita yang sangat unik dan memberikan wawasan baru dan pengetahuan batu.tetap semangat dalam berkarya dan semoga sukses selalu
Cerita yang menarik👍👍
Baiq Eka Dewi Sahrawati mengatakan…
Bagus dan menarik ceritanya👍
Atika apriliana mengatakan…
Ceritanya menarik👍
Anonim mengatakan…
Ceritanya sungguh menarik, di tunggu untuk cerita selanjutnya. Semangatttt👍👍
Observasu kemaliq ade mengatakan…
Alurnya sangat menarik
Darkness mengatakan…
Ceritanya bagus sekali ya sodara-sodara, semangat berhalu alapyuuu<3
Atika Almiana mengatakan…
Terima Kasih kepada teman-teman yang sudah berkomentar.

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Kemaliq Ranget Sebuah Warisan dari Para Leluhur Sasak

Kemaliq Ranget